gue, selalu menyukai seni. entah apapun itu bentuknya. mulai dari seni yang menggunakan gerak sebagai media salurnya, ataupun seni sesimpel sebuah karya tulis. gue ngga tau kapan itu bermulai, tapi kayaknya sekitar gue TK.
ya.
sedini itu.
ngga, orang tua gue bukanlah tipe yang 'nyeni' banget. yang mengenalkan anak-anak dari dini tentang seni dan segala macamnya. nyokap gue hanyalah seseorang yang punya hobi membaca. dan bokap gue berupa penikmat seni musik yang lebih detailnya lagi musik batak ataupun india (iya, seabsurd itu). tapi entah kenapa gue dan kakak gue sangat menyukai seni. gue rasa gue ketularan kakak gue sih. tapi ini juga ada faktor dari orang tua juga. like, gue mendapatkan hobi gue membaca dari nyokap gue. dan dari hobi itu gue lama-lama memiliki ketertarikan dan apresiasi penuh bagi siapapun yang bisa membuat rangkaian kata yang indah dan bermakna. kayak puisi ataupun novel. it goes both ways. dan dari bokap gue, gue mendapatkan kesukaan gue untuk mengeksplor musik dari situ. yang lama-lama berkembang menjadi kesukaan gue terhadap seni peran, seni tari, maupun seni drama (meskipun gue bukan tipe orang yang rela membayar tiket mahal-mahal untuk menonton suatu broadway tertentu. but if the plot interests me, i give it a shot). gue juga berterima kasih kepada guru seni sma gue (meskipun sering sekali di olok-olok sama temen-temen gue karena guru gue ini sedikit 'nyeleneh') yang mengenalkan gue kepada keindahan dan rasa damai yang ditawarkan oleh galeri seni. gue tipe orang yang memang suka ke museum, tapi gue belum pernah ke galeri seni sampai guru gue ini ngasih sebuah tugas yang mengharuskan gue nulis laporan kunjungan ke galeri seni. so, when i went there, i fell in love instantly with art galleries.
ya, memang jumlah art galleries maupun pameran yang gue kunjungi masih bisa dihitung jari. tapi gue menemukan kesukaan, dan kedamaian disaat gue bisa melihat art installment or just a painting. karena bagi gue, membuat karya seni itu sesusah itu loh. dan apabila bisa dibuat dan disertai pesan implisit yang mengena di belakangnya, gue tambah semakin salut.
dan di era millenial sekarang, art galleries are just simply for their selfies of aesthetic pictures that they posted on their instagram... banyak yang tidak melihat deskripsi secara lebih lanjut, atau bahkan melihat secara teliti apa yang ingin disampaikan oleh the art creator through their artworks... sedih bukan? dan artikel di http://www.pipeaway.com/selfies-raping-art-galleries/ sangat menyuarakan pendapat gue terhadap hal ini. dari hooknya saja, sudah sangat intriguing.
"What makes us visit galleries and museums? Is it the very personal pleasurable gain through enjoying the artworks, or is it the social recognition that we try to obtain by taking and posting selfies in the cultural context online?"
which one is your reason to visit galleries and museums, people?
jujur, melihat anak muda jaman sekarang yang hanya mengikuti tren kekinian untuk berfoto di galeri maupun museum patut disayangkan. karena sebetulnya karya ataupun barang maupun instalasi yang ada disana mengandung cerita dan maknanya masing-masing yang sayang apabila dilewatkan... i used to be one of these people. my reason going into museums or galleries just mainly to took pictures. but as i grow older, i realize. that i found my serendipity there. dan jauh lebih menyenangkan menyelami karya yang ada. dan benar-benar menjadi penikmat karya.
karena,
menghargai karya yang ada dengan benar-benar memahaminya jauh lebih berharga dibanding hanya menumpang mengambil foto di hadapan karya tersebut :)
No comments
Post a Comment